Feeds:
Posts
Comments

Alhamdulillah hari ini bisa belajar agama bersama secara online, setelah siang harinya merayakan Koningenendag muter2 di Delft 🙂 Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmatNya sehingga kami bisa senantiasa istiqomah berjuang di jalanNya. Amin.

Pada pertemuan kali ini, murabbi memberikan materi mengenai risalah manusia, part 1. Berikut ulasannya, semoga bermanfaat.

———

RISALAH MANUSIA (part 1)

Memahami risalah manusia bertujuan untuk memudahkan kita dalam memahami diri kita sebagai “manusia”. Continue Reading »

Advertisements

Adab Berbicara

Dalam berbicara, ada adab-adab yang harus diperhatikan oleh seseorang. Islam mengatur adab-adab bagi seorang muslim untuk berbicara, agar setiap kata yang keluar dari lisan muslim adalah untuk kebaikan. Bagaimanapun, adab-adab berbicara menurut Islam ini merupakan sesuatu yang baik yang juga berlaku untuk semua umat manusia, bukan hanya muslim. Ajaran Islam adalah ajaran yang baik dan menyeluruh.

1. Menjaga lisan

Maksudnya adalah memperhatikan segala perkataan yang keluar dari lisannya, yakni menghindari perkataan yang tidak baik, perkataan dusta, ghibah, adu domba, perkataan yang keji, dan segala perkataan yang diharamkan oleh Allah SWT. Continue Reading »

Kematian

‘Kematian’

Tidak ada yang mampu memprediksi, kapan seseorang akan mati.

Dia adalah sesuatu yang manusia sering lupakan. Padahal dia pasti akan datang.

Dia datang kapanpun, tidak peduli apakah itu pagi, siang atau malam.

Dia datang kepada siapapun, tidak peduli itu bayi, anak kecil, remaja, atau orang tua.

Dia datang tanpa mengenal kasta, entah itu orang miskin, middle class, bangsawan, pejabat atau presiden sekalipun.

Dia datang tanpa peduli, apakah seseorang sedang mabuk, sakau, kebut-kebutan, atau berbuat kebaikan.

Dia datang tanpa ada kabar, entah orang itu siap atau tidak.

Yang jelas, dia pasti akan datang. Entah kapan itu, yang pasti akan datang. Manusia seringkali melupakan akan kematian dan sibuk dengan urusan keduniawian. Bersenang-senang seolah hidupnya hanya berakhir di dunia saja. Melupakan ada tahap lain kehidupan yang akan dijalani kelak.

Ya Allah ya Rabbi, kami tidak tahu kapan kematian akan menjemput kami. Yang pasti, kami ingin jika nanti kematian datang, kami berada dalam keadaan yang baik yang Engkau ridhoi. Matikanlah kami dalam keadaan yang baik, dengan menyebut syahadat ‘Laa ilaaha illallah’, dengan senyum yang mengembang di bibir kami. Senyum tanda kebahagiaan karena sebentar lagi kami akan bertemu denganMu. Allahurabbi.. kami mencintaiMu. Ridhoilah kami sehingga kami mampu menghabiskan waktu kami di dunia ini dengan sebaik-baiknya ibadah kepadaMu. Pencapaian yang kita raih di dunia ini adalah persembahan cinta kami untukMu. Jadikan ini sebagai bekal yang barakah untuk masa depan abadi kami kelak, bersamaMu. Amin.

untuk temenku, alihun. semoga Allah SWT melapangkan kuburmu, teman. semoga Allah menerima segala kebaikan dan memaafkan segala dosa dan kesalahanmu. amin.

“Apa tujuan hidup dari setiap manusia yang diciptakan Tuhan?”

Ada 3 hal yang merupakan tuntutan ilahiah dalam Islam tentang tujuan hidup dan cita-cita hidup.

1) Untuk tujuan akhir (ultimate goal), yakni untuk bertemu Allah, kebahagiaan yang kekal abadi di akhirat

2) Untuk tujuan jangka pendek (short term goal), yakni sukses di dunia

3) Ibadah. Untuk mencapai 1) dan 2) adalah bisa dicapai dengan ibadah.

Sering kita mendengar “hidup ini hanya sekali, maka kita harus nikmati”. Itu adalah opini yang misleading, menyesatkan. Opini yang sudah berkembang luas di masyarakat tersebut membuat orang melupakan tujuan akhir yang lebih penting, yakni kehidupan akhirat.

“Kehidupan, Kematian dan Kehidupan yang kekal”. Setelah kematian, manusia akan dihidupkan untuk memulai kehidupan yang kekal. Kesuksesan hidup manusia waktu itu ditentukan dari bagaimana kehidupan dunianya, bagaimana dia menghabiskan waktunya di dunia, sebanyak apakah tabungan kebaikannya (amalnya).

Dengan demikian, akhirat sangat erat hubungannya dengan dunia. Orang yang memiliki orientasi kesuksesan akhirat, dia pasti akan menjalani kehidupan dunianya sebaik-baiknya. Dia akan menghabiskan waktunya untuk kegiatan yang bermanfaat, dia berusaha sungguh-sungguh, dia akan berbuat baik kepada sesama dan tentunya bertakwa kepada Tuhannya. Bagi dia, hal tersebut adalah manifestasi ibadah kepada Tuhannya. Itulah mengapa, orang yang mengorientasikan kehidupannya untuk kesuksesan akhirat, dia worth untuk mendapatkan kesuksesan dunia.

Jadi, mari kita berlomba-lomba memurnikan niatan hidup kita. Akhirat dan dunia harus seimbang. Akhirat sukses, dunia juga 🙂

Wassalamu’alaykum

delft, 23 march 2010

Menurut Sayd Quthb dalam Tafsir Fii Zhilalil Qur’an, surat Al-Baqarah ayat 1-5, ada beberapa ciri-ciri orang yang bertaqwa.
1. Kemampuan mengimani perkara ghaib
Menyadari bahwa kemampuan manusia untuk melogikakan segala sesuatu adalah sangat terbatas dikarenakan keterbatasan pengetahuan manusia. Orang yang bertaqwa mengimani keberadaan dan keesaan Allah SWT. Dia mengamini kejadian-kejadian di masa lalu dan juga mengamini kejadian di masa depan (akhirat), sesuai dengan apa yang Allah firmankan dalam Al-Quran.
2. Mendirikan shalat
Orang yang bertaqwa memperhatikan kualitas dan kuantitas shalatnya. Kualitas shalat berhubungan dengan kekhusyu’an shalat. Orang yang bertaqwa tercermin dari kekhusyu’an shalatnya. Oleh karenanya, dia selalu berusaha menjaga dirinya 24 jam agar terhindar dari perkara yang sia-sia sehingga shalatnya juga terjaga kekhusyu’annya.
3. Menginfakkan hartanya di jalan Allah
‘Hartamu adalah sejumlah apa yang kamu infakkan’. Orang yang bertaqwa kepada Allah menyadari bahwa harta yang ia infakkan adalah sebenar-benar harta yang dia miliki. Itulah harta sebagai bekal bagi dirinya kelak di akhirat. Orang yang bertaqwa merasa bahwa infak itu adalah pembebasan. Pembebasan dari rasa tamak dan kikir, individualis, gemerlapnya dunia, gaya hidup yang berlebihan dan sombong. Orang yang hobinya berinfak hatinya akan merasa bahagia karena hartanya bisa digunakan untuk membantu orang lain, terbebas dari kerakusan harta, dan bahagia membayangkan tabungannya untuk hari akhirat semakin banyak.
4. Beriman kepada Al-Quran dan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya
Al-Quran adalah kitab terakhir yang diturunkan kepada manusia. Tidak ada keraguan terhadap isi Al-Quran karena isi Al-Quran itu adalah firman-firman Tuhan. Tidak ada keraguan bahwa isi Al-Quran itu salah karena Tuhan sendiri yang menjamin kemurnian kitab suci Al-Quran. Orang yang bertaqwa beriman dan oleh karenanya mencintai Al-Quran. Manifestasi dari rasa cintanya terhadap Al-Quran, dia menjadikan Al-Quran sebagai bagian dari hidupnya sehingga dia selalu berusaha melaksanakan apa yang telah tertulis di Al-Quran. Dia mengamini bahwa Allah telah menurukan kitab suci sebelum Al-Quran, seperti yang juga diceritakan di dalam Al-Quran.
5. Yakin akan adanya kehidupan akhirat
Orang yang bertaqwa tidak hanya sibuk mengisi dunianya. Dia senantiasa sadar bahwa disamping kehidupan dunia, ada kehidupan di masa depan, yang abadi: kehidupan di kampung akhirat. Kehidupan di masa depan ini harus dipersiapkan jauh-jauh hari sebelum kehidupan itu dimulai, karena keberhasilan manusia di dalam kehidupan akhirat itu tergantung dari persiapan manusia di kehidupan dunianya. Orang yang bertaqwa senantiasa memasukkan akhirat dalam hati dan pikirannya sehingga setiap perbuatannya mengandung unsur-unsur keilahian.

Hello world!

Hello, world!

The best people in the world are those who believe in God and as a result they manifest their life to get blessings from God. Every step they take is started with the name of God. They spend their time for useful things and for the happiness of human beings. They always cheer up with happy face because they believe that every test is actually given by God to test how strong their love to God is..

So be strong! Prepare our best life not only for the happiness in the world, but also for the success of our life in the future.. the day of eternity.